DAMPAK PERUBAHAN CUACA TERHADAP PETANI GARAM DESA DRESI KULON KECAMATAN
KALIORI KABUPATEN REMBANG
Amalia Dewi Puspitosari
A410112004
Jurusan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhammadiyah Surakarta
I.
ABSTRAK
Usaha tambak garam merupakan jenis usaha terbesar di
wilayah Dresi Kulon. Untuk membuat garam dibutuhkan panas matahari sehingga
usaha ini hanya dapat dilakukan saat musim kemarau tiba. Namun, peristiwa alam
yang sering terjadi saat ini adalah adanya perubahan cuaca yang tidak menentu
yang dapat mengakibatkan gagal panen. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan
dampak perubahan cuaca terhadap petani garam Desa Dresi Kulon. Perubahan cuaca
yang diakibatkan efek rumah kaca berpengaruh besar pada proses pembuatan garam.
Cuaca yang tidak stabil mengakibatkan gagal panen sehingga pendapatan petani
garam berkurang. Maka dari itu mereka mempunyai pekerjaan sampingan untuk
memenuhi kebutuhan.
Kata Kunci: Garam, Perubahan Cuaca, Gagal Panen
II.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Kabupaten Rembang merupakan daerah
pesisir yang terletak di pantai utara Jawa. Secara geografis Kabupaten Rembang
berada diantara 60–70 lintang selatan dan diantara 1110
– 1120 bujur timur dengan batas-batas sebelah utara laut jawa,
sebelah timur propinsi Jawa Timur, sebelah barat Kabupaten Pati, dan sebelah
selatan Kabupaten Blora.
Banyak potensi industri berbasis pada
sumber daya alam yang dapat dikembangkan. Industri tersebut antara lain garam
rakyat, pengolahan ikan, betik, kerajinan kerang, kuningan, terasi, genteng,
dan pembuatan tas serta dompet.
Industri
yang paling banyak dikembangkan adalah garam rakyat. Hal itu dikarenakan posisi
Kabupaten Rembang yang strategis yaitu terletak di pantai utara Jawa. Dengan
letak geografisnya tersebut, masyarakat petani garam akan mudah mendapatkan
pasokan air laut yang digunakan sebagai komponen utama dalam pembuatan garam.
Jumlah pengusaha garam di Kabupaten
Rembang mencapai 805 orang. Adanya usaha garam yang besar diwilayah tersebut
dapat menyerap tenaga kerja 4.880 orang dan dapat menghasilkan produksi garam rata-rata
yang mencapai 150,400 ton pertahun. Luas areal tambak garam di Kabupaten
Rembang mencapai 1.184,965 Ha, yang meliputi: Kecamatan Kaliori (524,51 Ha),
Kecamatan Rembang (262,357 Ha), Kecamatan Lasem (364,35 Ha), Kecamatan Sluke
(21,426 Ha), Kecamatan Kragan (2 Ha), dan Kecamatan Sarang (28,322 Ha).
Kecamatan yang memiliki luas wilayah
tambak garam terbesar adalah Kecamatan Kaliori. Desa yang memiliki luas tambak
garam terbesar adalah Desa Dresi. Sebagian besar masyarakat Desa Dresi
menggantungkan hidupnya dengan berkerja di tambak garam. Tidak hanya menjadi
pemilik lahan garam, banyak diantara mereka
yang menjadi penyewa, penggarap, dan tenaga buruh. Selain karena luas area tambak garam yang
besar, hal tersebut dipengaruhi oleh proses pembuatannya yang dirasa mudah.
Hanya dengan menggunakan air laut yang dialirkan pada petak-petak tambak yang
sudah dipersiapkan dan dengan bantuan cahaya matahari serta angin yang kencang,
mereka dapat mengkristalkan garam .
Faktor cuaca sangat berpengaruh dalam
pembuatan garam. Apabila cuaca tidak mendukung maka garam tidak dapat
dihasilkan. Untuk membuat garam, petani membutuhkan panas matahari. Panas
tersebut berfungsi untuk mengkristalisasi garam. Maka dari itu pembuatan garam
dilakukan pada musim kemarau.
Namun masalah yang sering dialami
para petani garam saat ini adalah adanya cuaca yang tidak menentu. Musim
kemarau dan musim hujan sulit diprediksi, hujan turun saat musim kemarau dan
panas terik saat musim hujan. Apabila cuaca tidak stabil maka petani garam akan
mengalami gagal panen, sehingga produksi garam akan berkurang. Apabila
kegagalan panen berlangsung secara terus menerus, maka produksi garam akan
berkurang dan terjadi kelangkaan garam yang mengakibatkan harga garam melambung
tinggi.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas,
penulis tertarik untuk menyusun artikel ilmiah yang berjudul “Dampak Perubahan
Cuaca terhadap Petani Garam Desa Dresi Kulon Kecamatan Kaliori Kabupaten
Rembang”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas yang
menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.1.1. Bagaimanakah proses
pembuatan garam ?
1.1.2.
Apa saja
dampak yang ditimbulkan dengan adanya cuaca yang tidak menentu terhadap petani
garam Desa Dresi Kulon?
1.1.3. Bagaimanakah peran serta pemerintah dalam rangka pemberdayaan masyarakat
petani garam?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1.3.1. Memaparkan proses pembuatan garam.
1.3.2. Menganalisis dampak perubahan cuaca
yang tidak menentu terhadap petani garam desa dresi kulon kecamatan kaliori
kabupaten rembang.
1.3.3. Menganalisis peran serta pemerintah
dalam pemberdayaan masyarakat petani garam.
1.4. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat:
1.1.1.
Manfaat
teoritis: Dapat memberi
pengetahuan kepada
masyarakat akan adanya dampak perubahan cuaca terhadap proses pembuatan garam.
1.1.2.
Manfaat
praktis:
1.1.1.1. Untuk masyarakat
Dapat dijadikan rujukan untuk dapat mengantisipasi dampak
negatif dari perubahan cuaca.
1.1.1.2. Untuk pemerintah
Dapat dijadikan rujukan untuk dapat lebih berpikir kreatif
dalam pemberdayaan masyarakat petani tambak.
III.
10
PENELITIAN RELEVAN
1.1. Setyopratomo, et all (2003) meneliti
“Studi Eksperimental Pemurnian Garam NaCl dengan Cara Rekristalisasi”. Jurusan
Teknik Kimia Universitas Surabaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mempelajari efektifitas pemurnian garam NaCl dengan cara rekristalisasi. Dari
penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pencucian berperan besar dalam
meningkatkan kandungan NaCl karena pencucian dapat menurunkan kadar pengotor. http://repository.ubaya.ac.id/28/1/Art0002_Puguh.pdf.
Diakses 12 april 2012 pukul 21:25
1.2. Ayu Mirandati (2007) meneliti “Studi Implementasi
Kebijakan Pengadaan Garam Beryodium di Kecamatan Batangan Kabupaten Pati”.
Magister Ilmu Administrasi Program Pasca
Sarjana Universitas Diponegoro. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan kajian proses implementasi pengadaan
garam beryodium di Kecamatan Batangan Kabupaten Pati. Dari penelitian tersebut
didapatkan bahwa Pengadaan Garam beryodium di Kec. Batangan Kabupaten Pati
kurang maksimal. http://eprints.undip.ac.id/16958/1/DEVITA_AYU_MIRANDATI.pdf.
Diakses 12 april 2012 pukul 22:20
1.3. Diah Kartika (2008) meneliti “Faktor-Faktor yang Mendasari Keputusan Masyarakat Bermata Pencaharian sebagai Petani Garam dan Kontribusinya terhadap Pendapatan Keluarga (Kasus di Desa Pandan dan Desa Lembung Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan)”.
Fakultas Pertanian Universitas Jember. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui faktor-faktor yang mendasari keputusan masyarakat bermata
pencaharian sebagai petani garam. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan
bahwa dengan bekerja sebagai petani garam, masyarakat dapat memperoleh pendapatan
guna memenuhi kebutuhan keluarga. http://digilib.unej.ac.id/gdl42/gdl.php?mod=browse&op=read&id=gdlhub-gdl-grey-2008-annisadiah-1783. Diakses 12 April 2012 pukul 22:38
1.4.
Suhartono (2009) meneliti “Optimalisasi Fungsi
Kincir Angin Kawasan Tambak Garam Kabupaten Rembang Jawa Tengah Indonesia”. Magister Sistem Teknik Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat suatu alat yang dapat digunakan
secara optimal di kawasan tambak garam Kabupaten Rembang. Dari penelitian
tersebut dapat disimpulkan bahwa wind turbine adalah suatu alat yang dapat
dioperasikan pada angin berkecepatan rendah sampai kecepatan tinggi. http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=43528&obyek_id=4.
Diakses 12 april 2012 pukul 22:47.
1.5. Anisa, et all (2009) meneliti
“Pengaruh Garam Monovalen (NaCl dan KCl) dan Divalen (CaCl2 dan MgCl2)
terhadap Aktivitas Protease Ekstraseluler Bakteri Halofilik Isolat Bittern Tambak Garam Madura”.
Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Diponegoro. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh garam
monovalen (NaCl dan KCl) dan divalen (CaCl2 dan MgCl2) terhadap aktivitas dan profil aktivitas protease
halofil. Berdasarkan
penelitian diperoleh adanya garam
NaCl, CaCl2 dan MgCl2 akan meningkatkan aktivitas protease sedangkan KCl
akan menurunkan aktivitas protease. Profil aktivitas tertinggi pada penambahan
MgCl2, CaCl2, NaCl, kemudian KCl. http://eprints.undip.ac.id/2925/.
Diakses 12 April 2012 pukul 21:00
1.6. Qurrota A’yun (2009) meneliti ” Pembuatan
Alat Ukur Kadar Garam (Salinitas) dalam Air Berbasis Mikrokontroler (Studi Kasus
pada Tambak)”. Jurusan Fisika Fakultas dan Teknologi Universitas Islam Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat
alat ukur kadar garam (salinitas) pada tambak dengan menentukan tingkat akurasi
alat dan mengatur nilai salinitas secara otomatis.
hasil pengujian pada sistem keseluruhan menunjukkan nilai kesalahan relatif
rata-rata sebesar 3.07%. http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/fullchapter/04540027-septiana-qurrota-ayun.ps.
Diakses 12 april 2012 (22:10)
1.7.
Budiharjo,
et all (2009) meneliti “Pengaruh Konsentrasi NaCl terhadap Aktivitas Spesifik
Protease Ekstraseluler dari Bakteri Halofilik Hasil Isolasi Bittern Tambak
Garam Madura”. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh konsentrasi NaCl terhadap
aktivitas spesifik protease halofil. Adanya penambahan garam NaCl akan
meningkatkan aktivitas protease halofil. http://eprints.undip.ac.id/2882/.
Diakses 29 maret 2012 (21:45)
1.8.
Miladan (2009)
meneliti “Kajian Kerentanan Wilayah Pesisir Kota Semarang terhadap Perubahan
Iklim”. Program Pasca Sarjana Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan
Kota Universitas Diponegoro. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji
kerentanan wilayah pesisir Kota Semarang terhadap perubahan iklim terutamanya kenaikan air laut. Hasil
penelitian ini diketahui 16 Kelurahan Pesisir Kota Semarang memiliki tingkat
kerentanan rendah hingga sedang terhadap kerawanan kenaikan air laut. http://eprints.undip.ac.id/24136/1/NUR_MILADAN-01.pdf.
Diakses 12 april 2012 (23:18)
1.9. Rositasari, et al (2010) meneliti ”Kerentanan
Pesisir Cirebon terhadap Perubahan Iklim”. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
seberapa besar kerentanan pesisir cirebon terhadap penggenangan dan pengasaman
air. Hasil pengamatan memperlihatkan telah terjadi peningkatan yang nyata pada
lahan terbangun dan berkurangnya lahan bervegetasi di sepanjang pesisir utara
Cirebon serta konsentrasi CO2 terlarut di Cirebon relatif lebih
tinggi dibanding dengan perairan Kepulauan Seribu. http://www.limnologi.lipi.go.id/limnologi/p2limnologi/images/stories/Publikasi/OLDI/OLDI%20VOL.36%20No.%203%20Thn%202010%20(31Mar2011)/8.NASKAH%20RICKY%20dkk.pdf.
Diakses 12 april (23:30)
1.10. Rositasari, et al (2011) meneliti “ Kajian dan Prediksi Kerentanan Pesisir
terhadap Perubahan Iklim: Studi Kasus di Pesisir Cirebon”. Pusat Penelitian
Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengidentifikasi perubahan volume sedimen selama periode
aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah pesisir di
Cirebon telah longsor pada berbagai skala mulai dari kondisi rentan menjadi
buruk. http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt31/jurnal/Juni_4_final.pdf. Diakses pada 12 april 2012 (21:48)
IV.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Pebruari-Juni. Dengan lokasi penelitian di Desa Dresi Kulon Kecamatan
Kaliori Kabupaten Rembang dengan objek penelitian yaitu petani garam dan tambak
garam yang berada di lokasi tersebut.
Metode pengumpulan data pada
penelitian ini, yaitu: dengan melaksanakan tanya jawab (wawancara) dengan nara
sumber masyarakat Desa Dresi yang bekerja sebagai petani garam. Dari sejumlah
petani garam yang berada di lokasi tersebut, yang dijadikan sampel sebayak 10
petani garam. Setelah mengadakan wawancara, dilakukan studi pustaka dengan
mempelajari buku-buku, media masa yang berhubungan dengan penelitian, dan hasil
penelitian yang dilakukan sebelumnya. Hal tersebut dilakukan untuk memperkuat
hasil penelitian yang telah didapatkan.
V.
HASIL
dan PEMBAHASAN
1.1. Proses pembuatan garam
Proses pembuatan garam yang dilakukan
warga Desa Dresi Kulon masih menggunakan cara tradisional. Ada 3 tahap yang
perlu dilakukan dalam proses pembuatan garam, yaitu:
1.1.1. Persiapan lokasi penggaraman
Lahan pembuatan garam dibuat
berpetak-petak secara bertingkat, hal ini bertujuan agar air dapat mengalir ke
hilir kapan saja dikehendaki. Setelah itu, petak-petak tambak garam yang sudah
dipersiapkan dipadatkan serta dihaluskan dengan menggunakan welas yang terbuat
dari kayu.
Petak yang dipersiapkan ada 2 jenis,
pertama adalah petak dengan kedalaman lebih dari 1 m, petak kedua dengan
kedalaman 7 cm.
1.1.2. Persiapan alat dan bahan
Alat yang diperlukan dalam pembuatan garam, yaitu:
1.1.1.1.
Meteran
1.1.1.2.
Pompa
1.1.1.3.
Kincir
angin
1.1.1.4.
Selender
1.1.1.5.
Cangkul,
linggis, skop, penggaruk
1.1.3. Proses penggaraman
Ada empat proses yang harus dilakukan:
1.1.3.1.
Masukkan
air laut ke dalam petak garam pertama dengan kedalaman lebih dari 1 meter. Hal
tersebut dilakukan untuk mengubah kadar air garam menjadi 20 Be (standar
pembuatan garam).
1.1.3.2.
Masukkan
air laut dengan kadar 20 Be ke dalam petak tambak kedua dengan kedalaman 7 cm.
Dengan bantuan cahaya matahari dan angin, air laut akan mengkristal. Proses
kristalisasi berlangsung selama 1 minggu. Setelah air laut mengkristal, ratakan
dan padatkan dengan menggunakan selender dari kayu.
1.1.3.3.
Proses
ketiga adalah penumpukan. Masukkan air laut dengan kadar diatas 20 Be (22-25
Be) ke dalam petak tambak kedua. Dengan bantuan cahaya matahari dan angin, air
laut akan mengkristal. Namun karena penumpukan yang dilakukan, maka garam yang
dihasilkan bukan dari lapisan atas melainkan dari bawah (garam diatas garam).
Dengan begitu, garam yang dihasilkan akan mempunyai kualitas yang baik.
1.1.3.4.
Pengambilan garam dilakukan pada seminggu
sekali. Karena apabila garam digaruk setiap hari (rerok) maka garam yang
dihasilkan kurang maksimal.
1.2. Dampak dari perubahan cuaca terhadap
petani garam
Dalam proses pembuatan garam
dibutuhkan adanya panas matahari yang besar. Panas matahari tersebut
dimanfaatkan untuk proses kristalisasi garam. Walaupun semua komponen dalam
pembuatan garam sudah terpenuhi, namun apabila cuaca tidak mendukung maka garam
tidak akan dapat diproduksi.
Perubahan cuaca diakibatkan oleh efek
rumah kaca. Di lapisan luar bumi terdapat atmosfer yang berfungsi sebagai
pelindung bumi dari efek radiasi sinar matahari, menyerap sebagian panas dan
memantulkan kembali sisanya. Namun, dengan adanya gas rumah kaca, yaitu: uap
air, kanbondioksida, sulfur dioksida, dan metana sebagian panas tetap
terperangkap di bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di dalam bumi.
Apabila keadaan ini terjadi secara terus-menerus maka suhu rata-rata di bumi
akan meningkat (pemanasan global) dan mengakibatkan iklim menjadi tidak stabil.
Selama
pemanasan global suhu bumi akan meningkat sehingga mengakibatkan gunung-gunung
es mencair sehingga dataran akan lebih sedikit dibandingkan perairan. Lautan
yang semakin luas akan mengakibatkan penguapan menjadi semakin besar. Uap air
yang lebih banyak akan mengakibatkan akan membentuk awan yang semakin banyak,
kelembapan yang tinggi dan akan meningkatkan curah hujan. Apabila pola ini terjadi
secara terus menerus maka cuaca tidak akan dapat diprediksi dan menjadi lebih
ekstrem.
Cuaca yang tidak menentu akan
mengakibatkan puluhan hektar tambak garam gagal panen. Garam yang seharusnya
sudah siap panen akan mencair karena hujan. Apabila kondisinya sudah tidak
dapat diselamatkan lagi petani terpaksa mengulang proses pembuatan garam dari
awal dan membutuhkan waktu 20 hari kedepan. Kondisi tersebut bisa saja
dilakukan apabila hujan terjadi hanya dalam satu waktu, namun apabila hujan
terjadi berkali-kali dan dalam jangka waktu yang tidak dapat diprediksikan
setiap harinya walaupun hujan terjadi dengan intensitas ringan, petani akan
mengalami gagal panen yang berkelanjutan dan bahkan tidak dapat menghasilkan
produksi garam sama sekali.
Seperti
pada tahun 2010 ketika hujan terjadi dengan intesitas rendah sampai intensitas
tinggi dengan jangka waktu yang tidak dapat ditentukan (kadang hujan dan kadang
panas). Petani tidak dapat memprediksi cuaca sehingga mereka cenderung menunggu
panas datang dan memulai pembuatan garam kembali. Namun, cuaca yang sering kali
berubah selama satu tahun membuat para petani garam bahkan tidak dapat memulai
pembuatan garam. Sehingga pada tahun 2010 masyarakat Kabupaten Rembang
Khususnya di Desa Dresi Kulon mengalami gagal panen dan tidak dapat memproduksi
garam sama sekali.
IKLIM
|
|
Curah
hujan
|
400
mm
|
Jumlah
Bulan Hujan
|
10
bulan
|
Suhu
rata-rata harian
|
350
C
|
Tinggi
tempat dari permukaan laut
|
10
mdl
|
Gambar 1. Tabel Iklim di Desa Dresi pada Tahun
2010
Belum adanya teknologi untuk
memprediksikan cuaca ditengah-tengah masyarakat merupakan kendala tersendiri
bagi para petani garam. Apalagi cuaca saat ini sudah tidak dapat diprediksikan
lagi. Konsep perubahan cuaca yang terjadi di Indonesia yang selalu di jadikan
patokan pada saat di bangku sekolah, yaitu: musim kemarau pada bulan April
sampai dengan bulan Oktober dan musim hujan yang terjadi pada bulan Oktober
sampai dengan bulan April sekarang sudah tidak dapat dipraktekkan.
Masalah
lain yang ditimbulkan dengan adanya curah hujan tinggi adalah adanya pendangkalan tanah tambak garam. Padahal
untuk mendapatkan garam kualitas tinggi dibutuhkan lahan tambak garam dengan
kedalaman 1 meter dan 7 cm.
Gambar 2. Tabel cuaca Desa Dresi selama proses
pembuatan artikel ilmiah
Dari data tersebut didapatkan bahwa
pada 4 bulan terakhir cuaca masih belum stabil dan masih sering terjadi
perubahan cuaca secara tiba-tiba. Padahal secara teori saat ini sudah memasuki
musim kemarau.
Harga garam pada tahun ini masih
rendah, berkisar Rp 300 sampai dengan Rp 350. Hal itu disebabkan kualitas garam
yang masih rendah. Apabila kualitas garam tinggi maka harga garam dapat
mencapai Rp 1000/kg. Hasil yang didapat dari penjualan akan dibagi antara pemilik
tambak, penggarap, dan tenaga angkut.
Sebagian besar petani garam mempunyai
pendapatan rendah karena mereka harus menunggu sampai musim panen tiba untuk
mendapatkan uang yang tidak seberapa. Apabila perubahan cuaca tidak menentu dan
terjadi gagal panen, maka petani garam tidak mendapatkan penghasilan. Maka dari
itu, banyak petani garam yang mempunyai pekerjaan sampingan untuk memenuhi
kebutuhan mereka.
MATA PENCAHARIAN
|
Laki-Laki
|
Peremuan
|
Petani
|
506
|
526
|
Buruh
Tani
|
60
|
69
|
PNS
|
9
|
10
|
Montir
|
1
|
-
|
Bidan
Swasta
|
-
|
1
|
TNI
|
1
|
-
|
Gambar 3. Tabel mata pencaharian warga Desa
Dresi
Usaha dan Jasa
|
Jumlah
|
Tenaga Terserap
|
Jenis usaha
|
Pasar hasil bumi
|
1 unit
|
20 orang
|
Sembako
|
Toko kelontong
|
20 unit
|
20 orang
|
Sembako
|
Penitipan kendaraan
|
1 unit
|
1 orang
|
Kendaraan roda dua
|
Angkutan desa/kota
|
2 orang
|
28 orang
|
Industri kecil menengah
|
Lembaga simpan pinjam
|
3 unit
|
30 pengurus
|
Lembaga keuangan
|
Tukang kayu
|
5 unit
|
5 orang
|
Jasa ketrampilan
|
Tukang batu
|
20 unit
|
20 orang
|
Jasa ketrampilan
|
Jahit/bordir
|
4 unit
|
6 orang
|
Jasa ketrampilan
|
Hansip
|
20 jenis
|
20 orang
|
keamanan
|
Kelurahan
|
1 jenis
|
6 orang
|
Perangkat desa
|
Gambar 4. Tabel usaha dan jasa di Desa Dresi
TERNAK
|
JUMLAH PEMILIK
|
PERKIRAAN POPULASI
|
Sapi
|
321
orang
|
642
ekor
|
Ayam
kampung
|
468
orang
|
4.212
ekor
|
Kambing
|
175
orang
|
525
ekor
|
Gambar 5. Tabel jumlah ternak di Desa Dresi
1.3. Upaya pemerintah
Dengan
adanya permasalahan yang dihadapi masyarakat petani garam khususnya di Desa
Dresi Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, pemerintah telah melakukan beberapa
upaya, yaitu:
1.1.1. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
melaksanakan Program Pemberdayaan Usaha Garam (PUGAR)
Sebagai upaya untuk meningkatkan
produktifitas lahan garam, meningkatkan kapasitas pertambakan garam dan
meningkatkan pendapatan pertambakan garam pemerintah mengadakan kegiatan PUGAR.
Program PUGAR meliputi kegiatan peningkatan kelembagaan dan sumber daya manusia
(SDM) petambak garam, fasilitas kemitraan usaha dan penyaluran Bantuan Langsung
Masyarakat (BLM). PUGAR di Jawa Tengah dilaksanakan pada 364 Kelompok Usaha Garam
(KUGAR) dan 3.517 petambak garam.
Pemerintah menyediakan dana sebesar
Rp.5,35 miliar untuk Kabupaten Rembang. Bantuan tersebut digunakan untuk 100
KUGAR dan 996 petambak garam. Besar biaya yang diberikan berbeda-beda dan
disesuaikan dengan pekerjaan serta kebutuhan masing-masing individu dan
kelompok. Bantuan yang diberikan kepada pemilik lahan akan berbeda dengan
bantuan yang diberikan kepada penggarap tambak dan buruh. Dengan adanya program
tersebut diharapkan terwujudnya intensifikasi lahan usaha garam sehingga dapat
meningkatkan produktifitas lahan, serta terwujudnya KUGAR menjadi anggota
koperasi sehingga usaha, harga, dan pemasaran garam meningkat sehingga dapat
meningkatkan pendapatan petambak garam.
1.1.2. Dengan mengadakan pelatihan pembuatan
garam
Dengan anggaran APBD Provinsi Jawa
Tengah sebesar Rp.400 juta dilakukan pelatihan dan pemberian bantuan peralatan
untuk meningkatkan produksi garam. Pelatihan diikuti oleh 25 peserta dari
tiap-tiap Kabupaten di Jawa Tengah dengan bantuan masing-masing sebanyak 25
paket yang berupa peralatan untuk produksi usaha garam sesuai dengan kebutuhan
kelompok.
Program PUGAR dari pemerintah akan
dilaksanakan setiap tahunnya mulai dari tahun 2011. Program tersebut dapat
dijadikan motivasi bagi masyarakat petani garam untuk terus mengembangkan usaha
mereka dalam hal pembuatan garam.
VI.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pada bab pembahasan dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1.1. Proses pembuatan garam dilaksanakan
dengan mengalirkan air laut berkadar 20 Be kedalam lahan tambak garam dengan
ketinggian 7 cm. Dengan adanya panas matahari dan angin air laut akan
mengkristal menjadi garam. Kemudian ulangi proses tersebut dengan menggunakan
air berkadar 22 BE untuk mendapatkan garam dengan kualitas baik.
1.2. Apabila terjadi perubahan cuaca, maka
petani garam aka mengalami gagal panen sehingga pendapatan mereka akan
berkurang. Maka dari itu mereka mempunyai pekerjaan sampinhan untuk menopang
kehidupan.
1.3. Pemerintah mempunyai program PUGAR
(Program Pemberdayaan Usaha Garam) yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali
untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam.
VII.
DAFTAR
PUSTAKA
Anisa, dkk. 2009. “Pengaruh Garam
Monovalen (NaCl dan KCl) dan Divalen (CaCl2 dan MgCl2)
terhadap Aktivitas Protease Ekstraseluler Bakteri Halofilik Isolat Bittern
Tambak Garam Madura”. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/2925. Diakses
12 April 2012 (21:00)
Budiharjo, dkk. 2009. “Pengaruh
Konsentrasi NaCl terhadap Aktivitas Spesifik Protease Ekstraseluler dari
Bakteri Halofilik Hasil Isolasi Bittern Tambak Garam Madura”. Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/2882/.
Diakses 29 maret 2012 (21:45)
Diah Kartika, Annisa. 2008.
”Faktor-Faktor yang Mendasari Keputusan Masyarakat Bermata
Pencaharian sebagai Petani Garam dan Kontribusinya
terhadap Pendapatan Keluarga (Kasus di Desa Pandan dan Desa Lembung
Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan)”. Fakultas Pertanian Universitas Jember. http://digilib.unej.ac.id/gdl42/gdl.php?mod=browse&op=read&id=gdlhub-gdl-annisadiah-3513.
Diakses 12 April 2012 (22:38)
Miladan,
Nur. 2009. “Kajian Kerentanan Wilayah Pesisir Kota Semarang terhadap Perubahan
Iklim”. Program Pasca Sarjana Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota
Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/24136/1/NUR_MILADAN-01.pdf.
Diakses 12 april 2012 (23:18)
Mirandati, Devita Ayu. 2007. “Studi Implementasi
Kebijakan Pengadaan Garam Beryodium di Kecamatan Batangan Kabupaten Pati”. Magister Ilmu Administrasi
Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/16958/1/DEVITA_AYU_MIRANDATI.pdf.
Diakses 12 april 2012 (22:20)
Qurrota A’yun, Septiana. 2009. ” Pembuatan Alat Ukur Kadar Garam (Salinitas) dalam Air Berbasis Mikrokontroler (Studi Kasus pada Tambak)”. Jurusan Fisika
Fakultas dan Teknologi Universitas Islam Malang. .
http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/fullchapter/04540027-septiana-qurrota-ayun.ps.
Diakses 12 april 2012 (22:10)
Rositasari, Ricky, dkk. 2010. “Kerentanan Pesisir Cirebon terhadap Perubahan
Iklim”. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia. http://www.limnologi.lipi.go.id/limnologi/p2limnologi/images/stories/Publikasi/OLDI/OLDI%20VOL.36%20No.%203%20Thn%202010%20(31Mar2011)/8.NASKAH%20RICKY%20dkk.pdf.
Diakses 12 april (23:30)
Rositasari, Ricky, dkk. 2011. ““ Kajian dan Prediksi Kerentanan Pesisir
terhadap Perubahan Iklim: Studi Kasus di Pesisir Cirebon”. Pusat Penelitian
Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt31/jurnal/Juni_4_final.pdf. Diakses pada 12 april 2012 (21:48)
Setyopratomo, dkk. 2003. “Studi
Eksperimental Pemurnian Garam NaCl dengan Cara Rekristalisasi”. Jurusan Teknik
Kimia Universitas Surabaya. http://repository.ubaya.ac.id/28/1/Art0002_Puguh.pdf.
Diakses 12 april 2012 (21:25)
Suhartono, Eko. 2009. “Optimalisasi
Fungsi Kincir Angin Kawasan Tambak Garam Kabupaten Rembang Jawa Tengah
Indonesia”. Magister Sistem Teknik Program Pasca Sarjana
Universitas Gajah Mada. http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=43528&obyek_id=4.
Diakses 12 april 2012 (22:47)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar