Kamis, 13 Juni 2013

Contoh Artikel Ilmiah


DAMPAK PERUBAHAN CUACA TERHADAP PETANI GARAM DESA DRESI KULON KECAMATAN KALIORI KABUPATEN REMBANG
Amalia Dewi Puspitosari
A410112004
Jurusan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta

I.            ABSTRAK
Usaha tambak garam merupakan jenis usaha terbesar di wilayah Dresi Kulon. Untuk membuat garam dibutuhkan panas matahari sehingga usaha ini hanya dapat dilakukan saat musim kemarau tiba. Namun, peristiwa alam yang sering terjadi saat ini adalah adanya perubahan cuaca yang tidak menentu yang dapat mengakibatkan gagal panen. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan dampak perubahan cuaca terhadap petani garam Desa Dresi Kulon. Perubahan cuaca yang diakibatkan efek rumah kaca berpengaruh besar pada proses pembuatan garam. Cuaca yang tidak stabil mengakibatkan gagal panen sehingga pendapatan petani garam berkurang. Maka dari itu mereka mempunyai pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan.
Kata Kunci: Garam, Perubahan Cuaca, Gagal Panen


II.            PENDAHULUAN
1.1.     Latar Belakang Masalah
Kabupaten Rembang merupakan daerah pesisir yang terletak di pantai utara Jawa. Secara geografis Kabupaten Rembang berada diantara 60–70 lintang selatan dan diantara 1110 – 1120 bujur timur dengan batas-batas sebelah utara laut jawa, sebelah timur propinsi Jawa Timur, sebelah barat Kabupaten Pati, dan sebelah selatan Kabupaten Blora.
Banyak potensi industri berbasis pada sumber daya alam yang dapat dikembangkan. Industri tersebut antara lain garam rakyat, pengolahan ikan, betik, kerajinan kerang, kuningan, terasi, genteng, dan pembuatan tas serta dompet.
                Industri yang paling banyak dikembangkan adalah garam rakyat. Hal itu dikarenakan posisi Kabupaten Rembang yang strategis yaitu terletak di pantai utara Jawa. Dengan letak geografisnya tersebut, masyarakat petani garam akan mudah mendapatkan pasokan air laut yang digunakan sebagai komponen utama dalam pembuatan garam.
Jumlah pengusaha garam di Kabupaten Rembang mencapai 805 orang. Adanya usaha garam yang besar diwilayah tersebut dapat menyerap tenaga kerja 4.880 orang dan dapat menghasilkan produksi garam rata-rata yang mencapai 150,400 ton pertahun. Luas areal tambak garam di Kabupaten Rembang mencapai 1.184,965 Ha, yang meliputi: Kecamatan Kaliori (524,51 Ha), Kecamatan Rembang (262,357 Ha), Kecamatan Lasem (364,35 Ha), Kecamatan Sluke (21,426 Ha), Kecamatan Kragan (2 Ha), dan Kecamatan Sarang (28,322 Ha).
Kecamatan yang memiliki luas wilayah tambak garam terbesar adalah Kecamatan Kaliori. Desa yang memiliki luas tambak garam terbesar adalah Desa Dresi. Sebagian besar masyarakat Desa Dresi menggantungkan hidupnya dengan berkerja di tambak garam. Tidak hanya menjadi pemilik lahan garam, banyak diantara mereka  yang menjadi penyewa, penggarap, dan tenaga buruh.  Selain karena luas area tambak garam yang besar, hal tersebut dipengaruhi oleh proses pembuatannya yang dirasa mudah. Hanya dengan menggunakan air laut yang dialirkan pada petak-petak tambak yang sudah dipersiapkan dan dengan bantuan cahaya matahari serta angin yang kencang, mereka dapat mengkristalkan garam  .
Faktor cuaca sangat berpengaruh dalam pembuatan garam. Apabila cuaca tidak mendukung maka garam tidak dapat dihasilkan. Untuk membuat garam, petani membutuhkan panas matahari. Panas tersebut berfungsi untuk mengkristalisasi garam. Maka dari itu pembuatan garam dilakukan pada musim kemarau.
Namun masalah yang sering dialami para petani garam saat ini adalah adanya cuaca yang tidak menentu. Musim kemarau dan musim hujan sulit diprediksi, hujan turun saat musim kemarau dan panas terik saat musim hujan. Apabila cuaca tidak stabil maka petani garam akan mengalami gagal panen, sehingga produksi garam akan berkurang. Apabila kegagalan panen berlangsung secara terus menerus, maka produksi garam akan berkurang dan terjadi kelangkaan garam yang mengakibatkan harga garam melambung tinggi.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk menyusun artikel ilmiah yang berjudul “Dampak Perubahan Cuaca terhadap Petani Garam Desa Dresi Kulon Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang”.
1.2.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.1.1.  Bagaimanakah proses pembuatan garam ?
1.1.2.  Apa saja dampak yang ditimbulkan dengan adanya cuaca yang tidak menentu terhadap petani garam Desa Dresi Kulon?
1.1.3.  Bagaimanakah peran serta pemerintah dalam rangka pemberdayaan masyarakat petani garam?
1.3.     Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.3.1.  Memaparkan proses pembuatan garam.
1.3.2.  Menganalisis dampak perubahan cuaca yang tidak menentu terhadap petani garam desa dresi kulon kecamatan kaliori kabupaten rembang.
1.3.3.  Menganalisis peran serta pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat petani garam.
1.4.     Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1.1.1.  Manfaat teoritis:  Dapat memberi pengetahuan kepada masyarakat akan adanya dampak perubahan cuaca terhadap proses pembuatan garam.
1.1.2.  Manfaat praktis: 
1.1.1.1.     Untuk masyarakat
Dapat dijadikan rujukan untuk dapat mengantisipasi dampak negatif dari perubahan cuaca.
1.1.1.2.     Untuk pemerintah
Dapat dijadikan rujukan untuk dapat lebih berpikir kreatif dalam pemberdayaan masyarakat petani tambak.

III.            10 PENELITIAN RELEVAN
1.1.     Setyopratomo, et all (2003) meneliti “Studi Eksperimental Pemurnian Garam NaCl dengan Cara Rekristalisasi”. Jurusan Teknik Kimia Universitas Surabaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari efektifitas pemurnian garam NaCl dengan cara rekristalisasi. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pencucian berperan besar dalam meningkatkan kandungan NaCl karena pencucian dapat menurunkan kadar pengotor. http://repository.ubaya.ac.id/28/1/Art0002_Puguh.pdf. Diakses 12 april 2012 pukul 21:25
1.2.     Ayu Mirandati (2007) meneliti “Studi Implementasi Kebijakan Pengadaan Garam Beryodium di Kecamatan Batangan Kabupaten Pati”. Magister Ilmu Administrasi Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan kajian proses implementasi pengadaan garam beryodium di Kecamatan Batangan Kabupaten Pati. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa Pengadaan Garam beryodium di Kec. Batangan Kabupaten Pati kurang maksimal. http://eprints.undip.ac.id/16958/1/DEVITA_AYU_MIRANDATI.pdf. Diakses 12 april 2012 pukul 22:20
1.3.     Diah Kartika (2008) meneliti “Faktor-Faktor yang Mendasari Keputusan Masyarakat Bermata Pencaharian sebagai Petani Garam dan Kontribusinya terhadap Pendapatan Keluarga (Kasus di Desa Pandan dan Desa Lembung Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan)”. Fakultas Pertanian Universitas Jember. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mendasari keputusan masyarakat bermata pencaharian sebagai petani garam. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan bekerja sebagai petani garam, masyarakat dapat memperoleh pendapatan guna memenuhi kebutuhan keluarga. http://digilib.unej.ac.id/gdl42/gdl.php?mod=browse&op=read&id=gdlhub-gdl-grey-2008-annisadiah-1783. Diakses 12 April 2012 pukul 22:38
1.4.     Suhartono (2009) meneliti “Optimalisasi Fungsi Kincir Angin Kawasan Tambak Garam Kabupaten Rembang Jawa Tengah Indonesia”. Magister Sistem Teknik Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat suatu alat yang dapat digunakan secara optimal di kawasan tambak garam Kabupaten Rembang. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa wind turbine adalah suatu alat yang dapat dioperasikan pada angin berkecepatan rendah sampai kecepatan tinggi. http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=43528&obyek_id=4. Diakses 12 april 2012 pukul 22:47.
1.5.     Anisa, et all (2009) meneliti “Pengaruh Garam Monovalen (NaCl dan KCl) dan Divalen (CaCl2 dan MgCl2) terhadap Aktivitas Protease Ekstraseluler Bakteri Halofilik Isolat Bittern Tambak Garam Madura”. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh garam monovalen (NaCl dan KCl) dan divalen (CaCl2 dan MgCl2) terhadap aktivitas dan profil aktivitas protease halofil. Berdasarkan penelitian diperoleh adanya garam NaCl, CaCl2 dan MgCl2 akan meningkatkan aktivitas protease sedangkan KCl akan menurunkan aktivitas protease. Profil aktivitas tertinggi pada penambahan MgCl2, CaCl2, NaCl, kemudian KCl. http://eprints.undip.ac.id/2925/. Diakses 12 April 2012 pukul 21:00
1.6.     Qurrota A’yun (2009) meneliti Pembuatan Alat Ukur Kadar Garam (Salinitas) dalam Air Berbasis Mikrokontroler (Studi Kasus pada Tambak)”. Jurusan Fisika Fakultas dan Teknologi Universitas Islam Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat alat ukur kadar garam (salinitas) pada tambak dengan menentukan tingkat akurasi alat dan mengatur nilai salinitas secara otomatis. hasil pengujian pada sistem keseluruhan menunjukkan nilai kesalahan relatif rata-rata sebesar 3.07%. http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/fullchapter/04540027-septiana-qurrota-ayun.ps. Diakses 12 april 2012 (22:10)
1.7.     Budiharjo, et all (2009) meneliti “Pengaruh Konsentrasi NaCl terhadap Aktivitas Spesifik Protease Ekstraseluler dari Bakteri Halofilik Hasil Isolasi Bittern Tambak Garam Madura”. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam  Universitas Diponegoro. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh konsentrasi NaCl terhadap aktivitas spesifik protease halofil. Adanya penambahan garam NaCl akan meningkatkan aktivitas protease halofil. http://eprints.undip.ac.id/2882/. Diakses 29 maret 2012 (21:45)
1.8.     Miladan (2009) meneliti “Kajian Kerentanan Wilayah Pesisir Kota Semarang terhadap Perubahan Iklim”. Program Pasca Sarjana Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kerentanan wilayah pesisir Kota Semarang terhadap perubahan iklim terutamanya kenaikan air laut. Hasil penelitian ini diketahui 16 Kelurahan Pesisir Kota Semarang memiliki tingkat kerentanan rendah hingga sedang terhadap kerawanan kenaikan air laut. http://eprints.undip.ac.id/24136/1/NUR_MILADAN-01.pdf. Diakses 12 april 2012 (23:18)
1.9.     Rositasari, et al (2010) meneliti ”Kerentanan Pesisir Cirebon terhadap Perubahan Iklim”. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kerentanan pesisir cirebon terhadap penggenangan dan pengasaman air. Hasil pengamatan memperlihatkan telah terjadi peningkatan yang nyata pada lahan terbangun dan berkurangnya lahan bervegetasi di sepanjang pesisir utara Cirebon serta konsentrasi CO2 terlarut di Cirebon relatif lebih tinggi dibanding dengan perairan Kepulauan Seribu. http://www.limnologi.lipi.go.id/limnologi/p2limnologi/images/stories/Publikasi/OLDI/OLDI%20VOL.36%20No.%203%20Thn%202010%20(31Mar2011)/8.NASKAH%20RICKY%20dkk.pdf. Diakses 12 april (23:30)
1.10. Rositasari, et al (2011) meneliti “ Kajian dan Prediksi Kerentanan Pesisir terhadap Perubahan Iklim: Studi Kasus di Pesisir Cirebon”. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan volume sedimen selama periode aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah pesisir di Cirebon telah longsor pada berbagai skala mulai dari kondisi rentan menjadi buruk. http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt31/jurnal/Juni_4_final.pdf. Diakses pada 12 april 2012 (21:48)


IV.            METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Pebruari-Juni. Dengan lokasi penelitian di Desa Dresi Kulon Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang dengan objek penelitian yaitu petani garam dan tambak garam yang berada di lokasi tersebut.
Metode pengumpulan data pada penelitian ini, yaitu: dengan melaksanakan tanya jawab (wawancara) dengan nara sumber masyarakat Desa Dresi yang bekerja sebagai petani garam. Dari sejumlah petani garam yang berada di lokasi tersebut, yang dijadikan sampel sebayak 10 petani garam. Setelah mengadakan wawancara, dilakukan studi pustaka dengan mempelajari buku-buku, media masa yang berhubungan dengan penelitian, dan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya. Hal tersebut dilakukan untuk memperkuat hasil penelitian yang telah didapatkan.

V.            HASIL dan PEMBAHASAN
1.1.     Proses pembuatan garam
Proses pembuatan garam yang dilakukan warga Desa Dresi Kulon masih menggunakan cara tradisional. Ada 3 tahap yang perlu dilakukan dalam proses pembuatan garam, yaitu:
1.1.1.  Persiapan lokasi penggaraman
Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara bertingkat, hal ini bertujuan agar air dapat mengalir ke hilir kapan saja dikehendaki. Setelah itu, petak-petak tambak garam yang sudah dipersiapkan dipadatkan serta dihaluskan dengan menggunakan welas yang terbuat dari kayu.
Petak yang dipersiapkan ada 2 jenis, pertama adalah petak dengan kedalaman lebih dari 1 m, petak kedua dengan kedalaman 7 cm.
1.1.2.  Persiapan alat dan bahan
Alat yang diperlukan dalam pembuatan garam, yaitu:
1.1.1.1.          Meteran
1.1.1.2.          Pompa
1.1.1.3.          Kincir angin
1.1.1.4.          Selender
1.1.1.5.          Cangkul, linggis, skop, penggaruk
1.1.3.  Proses penggaraman
Ada empat proses yang harus dilakukan:
1.1.3.1.          Masukkan air laut ke dalam petak garam pertama dengan kedalaman lebih dari 1 meter. Hal tersebut dilakukan untuk mengubah kadar air garam menjadi 20 Be (standar pembuatan garam).
1.1.3.2.          Masukkan air laut dengan kadar 20 Be ke dalam petak tambak kedua dengan kedalaman 7 cm. Dengan bantuan cahaya matahari dan angin, air laut akan mengkristal. Proses kristalisasi berlangsung selama 1 minggu. Setelah air laut mengkristal, ratakan dan padatkan dengan menggunakan selender dari kayu.
1.1.3.3.          Proses ketiga adalah penumpukan. Masukkan air laut dengan kadar diatas 20 Be (22-25 Be) ke dalam petak tambak kedua. Dengan bantuan cahaya matahari dan angin, air laut akan mengkristal. Namun karena penumpukan yang dilakukan, maka garam yang dihasilkan bukan dari lapisan atas melainkan dari bawah (garam diatas garam). Dengan begitu, garam yang dihasilkan akan mempunyai kualitas yang baik.
1.1.3.4.            Pengambilan garam dilakukan pada seminggu sekali. Karena apabila garam digaruk setiap hari (rerok) maka garam yang dihasilkan kurang maksimal.
1.2.     Dampak dari perubahan cuaca terhadap petani garam
Dalam proses pembuatan garam dibutuhkan adanya panas matahari yang besar. Panas matahari tersebut dimanfaatkan untuk proses kristalisasi garam. Walaupun semua komponen dalam pembuatan garam sudah terpenuhi, namun apabila cuaca tidak mendukung maka garam tidak akan dapat diproduksi.
Perubahan cuaca diakibatkan oleh efek rumah kaca. Di lapisan luar bumi terdapat atmosfer yang berfungsi sebagai pelindung bumi dari efek radiasi sinar matahari, menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Namun, dengan adanya gas rumah kaca, yaitu: uap air, kanbondioksida, sulfur dioksida, dan metana sebagian panas tetap terperangkap di bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di dalam bumi. Apabila keadaan ini terjadi secara terus-menerus maka suhu rata-rata di bumi akan meningkat (pemanasan global) dan mengakibatkan iklim menjadi tidak stabil.
                Selama pemanasan global suhu bumi akan meningkat sehingga mengakibatkan gunung-gunung es mencair sehingga dataran akan lebih sedikit dibandingkan perairan. Lautan yang semakin luas akan mengakibatkan penguapan menjadi semakin besar. Uap air yang lebih banyak akan mengakibatkan akan membentuk awan yang semakin banyak, kelembapan yang tinggi dan akan meningkatkan curah hujan. Apabila pola ini terjadi secara terus menerus maka cuaca tidak akan dapat diprediksi dan menjadi lebih ekstrem.
Cuaca yang tidak menentu akan mengakibatkan puluhan hektar tambak garam gagal panen. Garam yang seharusnya sudah siap panen akan mencair karena hujan. Apabila kondisinya sudah tidak dapat diselamatkan lagi petani terpaksa mengulang proses pembuatan garam dari awal dan membutuhkan waktu 20 hari kedepan. Kondisi tersebut bisa saja dilakukan apabila hujan terjadi hanya dalam satu waktu, namun apabila hujan terjadi berkali-kali dan dalam jangka waktu yang tidak dapat diprediksikan setiap harinya walaupun hujan terjadi dengan intensitas ringan, petani akan mengalami gagal panen yang berkelanjutan dan bahkan tidak dapat menghasilkan produksi garam sama sekali.
                Seperti pada tahun 2010 ketika hujan terjadi dengan intesitas rendah sampai intensitas tinggi dengan jangka waktu yang tidak dapat ditentukan (kadang hujan dan kadang panas). Petani tidak dapat memprediksi cuaca sehingga mereka cenderung menunggu panas datang dan memulai pembuatan garam kembali. Namun, cuaca yang sering kali berubah selama satu tahun membuat para petani garam bahkan tidak dapat memulai pembuatan garam. Sehingga pada tahun 2010 masyarakat Kabupaten Rembang Khususnya di Desa Dresi Kulon mengalami gagal panen dan tidak dapat memproduksi garam sama sekali.




IKLIM
Curah hujan
400 mm
Jumlah Bulan Hujan
10 bulan
Suhu rata-rata harian
350 C
Tinggi tempat dari permukaan laut
10 mdl
Gambar 1. Tabel Iklim di Desa Dresi pada Tahun 2010

Belum adanya teknologi untuk memprediksikan cuaca ditengah-tengah masyarakat merupakan kendala tersendiri bagi para petani garam. Apalagi cuaca saat ini sudah tidak dapat diprediksikan lagi. Konsep perubahan cuaca yang terjadi di Indonesia yang selalu di jadikan patokan pada saat di bangku sekolah, yaitu: musim kemarau pada bulan April sampai dengan bulan Oktober dan musim hujan yang terjadi pada bulan Oktober sampai dengan bulan April sekarang sudah tidak dapat dipraktekkan.
                Masalah lain yang ditimbulkan dengan adanya curah hujan tinggi adalah adanya pendangkalan tanah tambak garam. Padahal untuk mendapatkan garam kualitas tinggi dibutuhkan lahan tambak garam dengan kedalaman 1 meter dan 7 cm.

Gambar 2. Tabel cuaca Desa Dresi selama proses pembuatan artikel ilmiah

Dari data tersebut didapatkan bahwa pada 4 bulan terakhir cuaca masih belum stabil dan masih sering terjadi perubahan cuaca secara tiba-tiba. Padahal secara teori saat ini sudah memasuki musim kemarau.
Harga garam pada tahun ini masih rendah, berkisar Rp 300 sampai dengan Rp 350. Hal itu disebabkan kualitas garam yang masih rendah. Apabila kualitas garam tinggi maka harga garam dapat mencapai Rp 1000/kg. Hasil yang didapat dari penjualan akan dibagi antara pemilik tambak, penggarap, dan tenaga angkut.
Sebagian besar petani garam mempunyai pendapatan rendah karena mereka harus menunggu sampai musim panen tiba untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa. Apabila perubahan cuaca tidak menentu dan terjadi gagal panen, maka petani garam tidak mendapatkan penghasilan. Maka dari itu, banyak petani garam yang mempunyai pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
MATA PENCAHARIAN
Laki-Laki
Peremuan
Petani
506
526
Buruh Tani
60
69
PNS
9
10
Montir
1
-
Bidan Swasta
-
1
TNI
1
-
Gambar 3. Tabel mata pencaharian warga Desa Dresi

Usaha dan Jasa
Jumlah
Tenaga Terserap
Jenis usaha
Pasar hasil bumi
1 unit
20 orang
Sembako
Toko kelontong
20 unit
20 orang
Sembako
Penitipan kendaraan
1 unit
1 orang
Kendaraan roda dua
Angkutan desa/kota
2 orang
28 orang
Industri kecil menengah
Lembaga simpan pinjam
3 unit
30 pengurus
Lembaga keuangan
Tukang kayu
5 unit
5 orang
Jasa ketrampilan
Tukang batu
20 unit
20 orang
Jasa ketrampilan
Jahit/bordir
4 unit
6 orang
Jasa ketrampilan
Hansip
20 jenis
20 orang
keamanan
Kelurahan
1 jenis
6 orang
Perangkat desa
Gambar 4. Tabel usaha dan jasa di Desa Dresi

TERNAK
JUMLAH PEMILIK
PERKIRAAN POPULASI
Sapi
321 orang
642 ekor
Ayam kampung
468 orang
4.212 ekor
Kambing
175 orang
525 ekor
Gambar 5. Tabel jumlah ternak di Desa Dresi

1.3.     Upaya pemerintah
Dengan adanya permasalahan yang dihadapi masyarakat petani garam khususnya di Desa Dresi Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, pemerintah telah melakukan beberapa upaya, yaitu:
1.1.1.  Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melaksanakan Program Pemberdayaan Usaha Garam (PUGAR)
Sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas lahan garam, meningkatkan kapasitas pertambakan garam dan meningkatkan pendapatan pertambakan garam pemerintah mengadakan kegiatan PUGAR. Program PUGAR meliputi kegiatan peningkatan kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM) petambak garam, fasilitas kemitraan usaha dan penyaluran Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). PUGAR di Jawa Tengah dilaksanakan pada 364 Kelompok Usaha Garam (KUGAR) dan 3.517 petambak garam.
Pemerintah menyediakan dana sebesar Rp.5,35 miliar untuk Kabupaten Rembang. Bantuan tersebut digunakan untuk 100 KUGAR dan 996 petambak garam. Besar biaya yang diberikan berbeda-beda dan disesuaikan dengan pekerjaan serta kebutuhan masing-masing individu dan kelompok. Bantuan yang diberikan kepada pemilik lahan akan berbeda dengan bantuan yang diberikan kepada penggarap tambak dan buruh. Dengan adanya program tersebut diharapkan terwujudnya intensifikasi lahan usaha garam sehingga dapat meningkatkan produktifitas lahan, serta terwujudnya KUGAR menjadi anggota koperasi sehingga usaha, harga, dan pemasaran garam meningkat sehingga dapat meningkatkan pendapatan petambak garam. 
1.1.2.  Dengan mengadakan pelatihan pembuatan garam
Dengan anggaran APBD Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp.400 juta dilakukan pelatihan dan pemberian bantuan peralatan untuk meningkatkan produksi garam. Pelatihan diikuti oleh 25 peserta dari tiap-tiap Kabupaten di Jawa Tengah dengan bantuan masing-masing sebanyak 25 paket yang berupa peralatan untuk produksi usaha garam sesuai dengan kebutuhan kelompok.
Program PUGAR dari pemerintah akan dilaksanakan setiap tahunnya mulai dari tahun 2011. Program tersebut dapat dijadikan motivasi bagi masyarakat petani garam untuk terus mengembangkan usaha mereka dalam hal pembuatan garam.

VI.            KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pada bab pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.1.     Proses pembuatan garam dilaksanakan dengan mengalirkan air laut berkadar 20 Be kedalam lahan tambak garam dengan ketinggian 7 cm. Dengan adanya panas matahari dan angin air laut akan mengkristal menjadi garam. Kemudian ulangi proses tersebut dengan menggunakan air berkadar 22 BE untuk mendapatkan garam dengan kualitas baik.
1.2.     Apabila terjadi perubahan cuaca, maka petani garam aka mengalami gagal panen sehingga pendapatan mereka akan berkurang. Maka dari itu mereka mempunyai pekerjaan sampinhan untuk menopang kehidupan.
1.3.     Pemerintah mempunyai program PUGAR (Program Pemberdayaan Usaha Garam) yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam.

VII.            DAFTAR PUSTAKA
Anisa, dkk. 2009. “Pengaruh Garam Monovalen (NaCl dan KCl) dan Divalen (CaCl2 dan MgCl2) terhadap Aktivitas Protease Ekstraseluler Bakteri Halofilik Isolat Bittern Tambak Garam Madura”. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/2925. Diakses 12 April 2012 (21:00)
Budiharjo, dkk. 2009. “Pengaruh Konsentrasi NaCl terhadap Aktivitas Spesifik Protease Ekstraseluler dari Bakteri Halofilik Hasil Isolasi Bittern Tambak Garam Madura”. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam  Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/2882/. Diakses 29 maret 2012 (21:45)
Diah Kartika, Annisa. 2008. ”Faktor-Faktor yang Mendasari Keputusan Masyarakat Bermata Pencaharian sebagai Petani Garam dan Kontribusinya terhadap Pendapatan Keluarga (Kasus di Desa Pandan dan Desa Lembung Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan)”. Fakultas Pertanian Universitas Jember. http://digilib.unej.ac.id/gdl42/gdl.php?mod=browse&op=read&id=gdlhub-gdl-annisadiah-3513. Diakses 12 April 2012 (22:38)
Miladan, Nur. 2009. “Kajian Kerentanan Wilayah Pesisir Kota Semarang terhadap Perubahan Iklim”. Program Pasca Sarjana Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/24136/1/NUR_MILADAN-01.pdf. Diakses 12 april 2012 (23:18)
Mirandati, Devita Ayu. 2007. “Studi Implementasi Kebijakan Pengadaan Garam Beryodium di Kecamatan Batangan Kabupaten Pati”. Magister Ilmu Administrasi Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/16958/1/DEVITA_AYU_MIRANDATI.pdf. Diakses 12 april 2012 (22:20)
Qurrota A’yun, Septiana. 2009. ” Pembuatan Alat Ukur Kadar Garam (Salinitas) dalam Air Berbasis Mikrokontroler (Studi Kasus pada Tambak)”. Jurusan Fisika Fakultas dan Teknologi Universitas Islam Malang. . http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/fullchapter/04540027-septiana-qurrota-ayun.ps. Diakses 12 april 2012 (22:10)
Rositasari, Ricky, dkk. 2010. “Kerentanan Pesisir Cirebon terhadap Perubahan Iklim”. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. http://www.limnologi.lipi.go.id/limnologi/p2limnologi/images/stories/Publikasi/OLDI/OLDI%20VOL.36%20No.%203%20Thn%202010%20(31Mar2011)/8.NASKAH%20RICKY%20dkk.pdf. Diakses 12 april (23:30)
Rositasari, Ricky, dkk. 2011. ““ Kajian dan Prediksi Kerentanan Pesisir terhadap Perubahan Iklim: Studi Kasus di Pesisir Cirebon”. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt31/jurnal/Juni_4_final.pdf. Diakses pada 12 april 2012 (21:48)
Setyopratomo, dkk. 2003. “Studi Eksperimental Pemurnian Garam NaCl dengan Cara Rekristalisasi”. Jurusan Teknik Kimia Universitas Surabaya. http://repository.ubaya.ac.id/28/1/Art0002_Puguh.pdf. Diakses 12 april 2012 (21:25)
Suhartono, Eko. 2009. “Optimalisasi Fungsi Kincir Angin Kawasan Tambak Garam Kabupaten Rembang Jawa Tengah Indonesia”. Magister Sistem Teknik Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada. http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=43528&obyek_id=4. Diakses 12 april 2012  (22:47)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar